Home » HRD Diam-Diam Cek Media Sosial Kandidat? Ini Fakta & Tips Agar Lolos Screening 

HRD Diam-Diam Cek Media Sosial Kandidat? Ini Fakta & Tips Agar Lolos Screening 

Ilustrasi tim HRD mengecek media sosial kandidat melalui tablet dan perangkat digital dalam proses rekrutmen.

Pernah dengar ungkapan, “Apa yang kamu unggah di media sosial hari ini bisa menjadi jejak digital yang menentukan masa depanmu.”

Sekilas, kalimat ini terdengar seperti sekadar nasihat bagi mereka yang aktif di media sosial. Namun, ungkapan tersebut ternyata memiliki makna yang cukup penting terkhusus buat kamu yang sedang mencari pekerjaan. Saat ini, media sosial sering dianggap sebagai salah satu indikator yang dapat memengaruhi proses rekrutmen karyawan. Banyak rekruter memanfaatkan platform digital untuk melihat gambaran seseorang secara lebih luas, mulai dari kepribadian, cara berkomunikasi, hingga sikapnya di ruang digital. Bahkan, tidak sedikit HRD mengecek media sosial untuk menilai jejak digital kandidat sebelum melanjutkan ke tahap seleksi berikutnya.

Apakah benar akun media sosial dapat memengaruhi peluang seseorang untuk diterima bekerja? Yuk growers cari tahu jawabannya dalam kelanjutan artikel ini!

Baca juga: Fenomena Push Rank Linkedln

Apa Itu Background Checking dalam Rekrutmen?

Background checking merupakan salah satu tahapan dalam proses rekrutmen yang bertujuan untuk menelusuri latar belakang kandidat secara menyeluruh. Proses ini mencakup berbagai aspek, seperti catatan kriminal, riwayat pekerjaan, pendidikan, status hukum, hingga kondisi kesehatan.

Selain itu, beberapa perusahaan juga melakukan pengecekan tambahan untuk memahami kepribadian dan karakter kandidat. Hal ini dilakukan guna menilai kesesuaian kandidat dengan posisi yang dilamar, baik melalui referensi dari rekan kerja atau atasan sebelumnya, maupun melalui aktivitas di media sosial.

Melihat hal tersebut, muncul pertanyaan apakah HRD benar-benar mengecek media sosial kandidat dalam proses rekrutmen? Meskipun bagi HR pengecekan media sosial dianggap penting untuk menilai kecocokan, praktik ini masih sering dipertanyakan oleh para pencari kerja.

Apakah HRD Mengecek Media Sosial Kandidat? 

Faktanya, banyak perusahaan memang melakukan hal tersebut. Survei dari The Harris Poll di menunjukkan bahwa sekitar 70% pemberi kerja di Amerika Serikat memeriksa media sosial kandidat sebelum mengambil keputusan rekrutmen. Di Indonesia, hal serupa juga terjadi.  Mengutip dari Girl Beyond, Vina Muliana, seorang content creator sekaligus HR practitioner, menyebutkan bahwa sekitar 80% rekruter melakukan pengecekan media sosial kandidat dalam proses pemilihan calon karyawan. 

Meskipun belum diatur secara khusus dalam regulasi, praktik pengecekan media sosial kandidat kini menjadi bagian dari pertimbangan tambahan dalam proses background checking.

Alasan HRD Mengecek Media Sosial Kandidat

Lantas, apa tujuan dari pengecekan ini? Sebenarnya, ada sejumlah alasan yang membuat rekruter meninjau media sosial calon karyawan, diantaranya adalah:

1. Melindungi Perusahaan dari Potensi Risiko

Salah satu tujuan utama background checking adalah untuk mencegah risiko yang bisa merugikan perusahaan di masa depan. Lewat proses ini, rekruter bisa melihat apakah kandidat pernah menunjukkan perilaku yang berpotensi bermasalah. Misalnya terlibat kasus korupsi, pelecehan seksual, kolusi, atau perilaku tidak etis lainnya yang bisa merusak reputasi perusahaan. Dengan begitu, perusahaan bisa lebih selektif memilih kandidat yang benar-benar bisa dipercaya.

2. Mengurangi Risiko Kecurangan

Background check juga dilakukan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kecurangan di perusahaan. Tanpa pengecekan yang jelas, risiko seperti pemalsuan dokumen, penggelapan dana, atau kasus fraud di tempat kerja bisa saja terjadi. Karena itu, penting bagi kandidat untuk selalu jujur, termasuk saat menuliskan informasi di CV.

3. Menjaga Citra Perusahaan

    Perusahaan juga ingin memastikan karyawan yang mereka rekrut memiliki sikap dan perilaku yang sejalan dengan nilai perusahaan. Karena itu, media sosial sering dijadikan salah satu referensi. Rekruter ingin melihat bagaimana kandidat bersikap di ruang digital dan apakah citra yang ditampilkan cukup positif untuk mewakili perusahaan.

    4. Melihat kredibilitas kandidat

      Hal lain yang sering diperhatikan HRD dari media sosial adalah kredibilitas. Perusahaan ingin tahu apakah kandidat sering menyebarkan informasi yang valid atau justru kerap membagikan hoaks dan informasi yang tidak jelas kebenarannya. Hal ini bisa memberi gambaran tentang bagaimana cara seseorang berpikir dan bersikap di dunia digital.

      5. Mengetahui Keterampilan Kandidat

      Rekruter juga biasanya mengecek portofolio kandidat sebagai bagian dari background check. Dari portofolio tersebut, mereka bisa melihat hasil kerja, pengalaman, serta skill yang dimiliki. Hal ini membantu perusahaan menilai apakah kemampuan kandidat memang relevan dengan posisi yang sedang dibuka.

      Perlukah Private Akun Media Sosial saat Melamar Kerja?

      Mungkin kamu juga bertanya-tanya perlukah private akun media sosial saat melamar kerja. Sebagian perusahaan mungkin tidak terlalu mempermasalahkan akun media sosial kandidat. Namun, ada juga perusahaan yang justru menjadikan media sosial sebagai bagian dari proses background check. Itu sebabnya, beberapa rekruter lebih suka jika akun media sosial kandidat tidak diprivat agar mereka bisa melihat aktivitas kandidat di dunia digital.

      Masalahnya, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah perusahaan akan mengecek media sosial kita atau tidak. Jadi, langkah paling aman adalah tetap menjaga isi media sosial dengan baik. Usahakan membangun personal branding yang positif dan profesional lewat konten yang kamu unggah. Kamu juga perlu menghindari membahas gosip kantor atau menjelekkan rekan kerja di media sosial. Selain itu, sebaiknya kamu lebih selektif sebelum mem-posting sesuatu agar tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan.

      Singkatnya, setiap perusahaan punya kebijakan yang berbeda terkait pengecekan media sosial kandidat. Tapi apa pun kondisinya, menjaga media sosial tetap positif dan profesional tetap jadi langkah terbaik. Alhasil, jejak digitalmu bisa memberikan kesan yang baik di mata rekruter.

      Tips Agar Lolos Screening Media Sosial oleh HRD

      Supaya media sosialmu tetap terlihat profesional dan tidak menjadi hambatan dalam proses rekrutmen, apa saja tips-tips yang harus kamu lakukan?

      1. Hapus Konten yang Kurang Pantas

      Setiap orang pasti pernah membuat kesalahan, termasuk saat mengunggah sesuatu di media sosial. Jika kamu menemukan unggahan lama yang terasa kurang profesional, sebaiknya segera dihapus. Menghapus konten bisa membantu memperbaiki citra dirimu di dunia digital.

      2. Perhatikan Ejaan dan Tata Bahasa

      Walaupun media sosial bersifat santai dan personal, bukan berarti kamu bisa mengabaikan cara menulis. Kesalahan ejaan atau tata bahasa yang terlalu sering bisa membuat orang lain menilai kamu kurang teliti. Apa pun bidang pekerjaan yang kamu lamar, menggunakan bahasa yang baik tetap bisa memberi kesan profesional.

      3. Coba Cari Namamu di Google

      Mencari namamu sendiri di Google bukan berarti narsis. Justru hal ini bisa membantu kamu melihat seperti apa jejak digitalmu di internet dari sudut pandang orang lain, termasuk rekruter. Kamu mungkin menemukan unggahan lama yang memalukan atau komentar negatif yang pernah ditulis. Dari situ, kamu bisa mengevaluasi dan membersihkan konten yang kurang pantas.

      4. Hindari Berdebat atau Bertengkar di Internet

      Cara bijak menggunakan media sosial juga terlihat dari waktu kamu mengunggah sesuatu. Banyak platform menampilkan waktu posting, sehingga orang lain bisa melihat kapan kamu aktif. Jika kamu sering mengunggah hal yang tidak penting saat jam kerja, hal tersebut bisa memberi kesan bahwa kamu kurang disiplin atau tidak fokus pada pekerjaan.

      5. Hindari Posting saat Jam Kerja

      Cara bijak menggunakan media sosial juga terlihat dari waktu kamu mengunggah sesuatu. Banyak platform menampilkan waktu posting, sehingga orang lain bisa melihat kapan kamu aktif. Jika kamu sering mengunggah hal yang tidak penting saat jam kerja, hal tersebut bisa memberi kesan bahwa kamu kurang disiplin atau tidak fokus pada pekerjaan.

      Baca juga: Post Graduation Depression pada Fresh Graduate: Penyebab dan Cara Mengatasinya

      Penutup

      Demikian penjelasan Talent Growth mengenai fakta bahwa media sosial dapat memengaruhi peluang seseorang untuk diterima bekerja. Yuk, mulai lebih bijak dalam menggunakan media sosial dari sekarang. Apa yang kamu unggah hari ini bisa menjadi bagian dari jejak digital yang dilihat oleh banyak orang, termasuk rekruter. 

      Masih cari tips rekrutmen lainnya? kunjungi halaman Talent Growth agar kamu bisa lebih siap menghadapi proses rekrutmen. Selain itu, jika kamu sedang mencari peluang kerja baru, kamu bisa menjelajahi berbagai lowongan yang tersedia. Kami bekerja sama dengan banyak perusahaan terkemuka yang sedang mencari kandidat profesional sepertimu. 

      Leave a Reply

      Your email address will not be published. Required fields are marked *