Banyak fresh graduate kesulitan membuat portofolio karena belum memiliki pengalaman kerja. Salah satu solusi yang cukup populer adalah membuat dummy project atau fake project untuk menunjukkan skill dan proses berpikir kepada recruiter.
Lantas, bagaimana cara membuatnya? Simak artikel ini sampai tuntas ya.
Apa itu Dummy Project?
Dummy project (proyek palsu/fake project) adalah proyek simulasi yang dikerjakan sendiri meskIpun belum pernah memiliki klien sungguhan, namun disimulasikan seolah-olah profesional untuk mengisi portfolio. Tujuannya yaitu untuk menunjukkan kemampuan teknis, kreativitas, dan proses berpikir kepada rekruter ataupun klien meskipun belum memiliki pengalaman kerja formal.
Beberapa contoh dummy project yang umum digunakan antara lain:
- Desain UI/UX: Membuat wireframe, redesign aplikasi atau website, serta menyusun identitas visual dan branding.
- Search Engine Optimization (SEO): Membuat SEO Audit dan SEO Plan untuk brand, membuat content plan, dan keyword research.
- Data Entry dan Data Analysis: Mengolah dataset mentah, membersihkan data, menyusun spreadsheet, serta membuat laporan dan visualisasi data.
- Content Writing dan Copywriting: Menulis artikel blog, email newsletter, caption media sosial, atau script iklan ads untuk campaign brand atau perusahaan fiktif.
- Performance Marketing: Membuat plan ads campaign, membuat media iklan, dan analisa ads campaign.
Tips: jangan asal pilih topik, sesuaikan dummy project dengan pekerjaan yang ingin kamu lamar nanti.
Baca juga: Meningkatkan Nilai Jual Meski Belum Punya Pengalaman
Kenapa Dummy Project Penting untuk Pemula?
Belum yakin dummy project itu penting? Nah, ini dia beberapa alasan kenapa kamu sebaiknya mulai bikin satu.
1. Menjadi Sarana Belajar dan Mengasah Skill
Dummy project dapat digunakan sebagai media latihan untuk mengembangkan kemampuan di bidang tertentu. Melalui proyek ini, kamu bisa mencoba berbagai tools, metode kerja, hingga alur pengerjaan proyek tanpa tekanan dari klien asli.
Karena tidak memiliki risiko besar, dummy project memberikan kebebasan untuk bereksperimen dan memperbaiki kesalahan. Dengan begitu, proses belajar menjadi lebih fleksibel dan efektif.
2. Membantu Mengisi Portfolio bagi Pemula
Banyak pemula menghadapi situasi “belum punya pengalaman kerja, tetapi diminta pengalaman.”
Dalam kondisi seperti ini, dummy project dapat menjadi solusi untuk menunjukkan kemampuan dan cara berpikir dalam menyelesaikan masalah.
Walaupun bukan berasal dari klien nyata, proyek tersebut tetap bisa memperlihatkan skill, kreativitas, serta pemahamanmu di bidang yang ingin ditekuni. Recruiter pun dapat menilai bagaimana proses kerja dan kualitas hasil yang kamu buat.
3. Memberi Ruang untuk Mengeksplorasi Ide dan Gaya Sendiri
Dalam lingkungan kerja atau pendidikan, terkadang ada aturan tertentu yang membatasi kreativitas.
Dummy project memberikan kebebasan untuk mencoba konsep baru, gaya visual berbeda, maupun pendekatan unik yang mungkin sulit diterapkan di proyek nyata.
Melalui proses tersebut, kamu juga bisa menemukan ciri khas dan spesialisasi yang ingin dikembangkan. Hal ini tentu dapat membantu membangun personal branding sekaligus membuat portofolio terlihat lebih menarik dan autentik.
Apakah Dummy Project Boleh Digunakan untuk Melamar Kerja?
Pertanyaan ini cukup sering muncul, terutama di kalangan fresh graduate maupun career switcher yang belum memiliki banyak pengalaman kerja.
Jawabannya adalah boleh, bahkan dalam beberapa situasi dummy/ fake project justru dapat menjadi nilai tambah untuk menunjukkan kemampuan dan potensi yang dimiliki.
Baca juga: Productivity: Cara Biar Proyek Besar Nggak Lagi Bikin Pusing
Cara Membuat Dummy Project
Dummy project yang baik bukan sekadar “proyek jadi-jadian.” Ada langkah-langkah yang bisa kamu ikuti agar hasilnya lebih terarah dan profesional yaitu:
1. Tentukan Tujuan (Define Your Goal)
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan tujuan dari dummy project yang ingin dibuat.
Coba pikirkan kemampuan apa yang ingin kamu tunjukkan melalui project tersebut, apakah kemampuan menulis konten, desain grafis, video editing, atau strategi pemasaran.
Tujuan yang jelas membantu project lebih fokus dan relevan dengan skill yang ingin ditampilkan.
Contoh: Ingin menunjukkan kemampuan SEO Writing dan Content Planning.
2. Tulis Problem Statement yang Jelas
Berikutnya, kamu perlu menentukan problem statement yang spesifik agar dummy project memiliki tujuan yang realistis.
Problem statement membantu project terlihat lebih profesional karena ada masalah yang ingin diselesaikan.
Project tanpa masalah akan terlihat seperti “tugas sekolah” biasa. Berikan konteks tantangan yang dihadapi sebuah brand (nyata atau fiktif).
- Contoh: “Brand Kopi X memiliki produk berkualitas, namun engagement di Instagram rendah dan tidak muncul di pencarian Google.”
3. Riset dan Analisis (Research)
Jangan langsung eksekusi. Tunjukkan bahwa setiap keputusan yang diambil didasarkan pada data, kebutuhan pengguna, dan analisis masalah yang jelas.
Dengan begitu, solusi yang dibuat akan terlihat lebih profesional dan memiliki tujuan yang terarah.
- Audience: Siapa target pasarnya?
- Competitor: Apa yang dilakukan kompetitor mereka?
- Keywords: Apa kata kunci yang relevan (jika untuk SEO/Konten)?
4. Kembangkan Solusi & Konsep (The Solution)
Jelaskan ide besar kamu untuk menyelesaikan masalah di poin nomor 2. Fokuslah pada bagaimana membangun solusi yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga benar-benar mampu menjawab kebutuhan pengguna.
- Strategi: “Membuat series konten edukasi manfaat kopi dan optimasi artikel blog dengan keyword ‘kopi arabika terbaik’.”
5. Proses Eksekusi (The Execution)
Tahap pengerjaan gunakan tools yang relevan. Dokumentasikan prosesnya (draft, sketsa, atau content calendar).
Proses dokumentasi membantu memperlihatkan perkembangan ide dari tahap awal hingga menjadi hasil akhir yang matang. Hal ini membuat portofolio terlihat lebih hidup dan tidak sekadar menampilkan hasil jadi saja.
- Tools: Canva, Figma, Google Docs, Notion, atau WordPress.
6. Tampilkan Hasil Akhir (Final Deliverables)
Tunjukkan visual atau tulisan final yang sudah jadi. Pastikan rapi dan mudah dibaca. Presentasi hasil akhir sangat penting karena akan menjadi hal pertama yang dilihat oleh recruiter, klien, maupun audiens ketika menilai kualitas pekerjaanmu.
- Visual: Mockup desain, screenshot artikel yang terbit, atau link ke dashboard simulasi.
7. Pilih Platform & Susun Portofolio
Pindahkan semua poin di atas ke dalam platform portofolio pilihanmu. Jangan lupa tambahkan penjelasan singkat mengenai tujuan project, problem statement, proses pengerjaan, dan solusi yang diberikan agar portofolio terlihat lebih menarik dan profesional.
- Platform: Notion (untuk proses detail), Behance atau canva (untuk visual), atau Medium (untuk tulisan).
7 Website untuk Membuat Dummy Project
Tidak perlu menunggu mendapatkan klien atau pekerjaan pertama, karena kamu bisa mulai berlatih melalui project fiktif yang tersedia di beberapa website berikut:
1. Portolabs.id
Fungsi utama
- Menyediakan study case fiktif untuk latihan dan membangun portofolio.
- Memberikan evaluasi hasil kerja melalui fitur AI.
Cocok untuk siapa?
- Fresh graduate dan mahasiswa.
- Job seeker atau career switcher yang ingin menambah portofolio.
Kelebihan
- Menggunakan bahasa Indonesia sehingga mudah dipahami.
- Terdapat feedback AI untuk membantu meningkatkan hasil pekerjaan.
Website: https://portolabs.id
2. Fakeclients.com
Fungsi utama
- Menyediakan brief proyek fiktif untuk berbagai bidang seperti desain, copywriting, dan content creation.
- Membantu pengguna melatih keterampilan sekaligus membangun portofolio melalui simulasi proyek yang menyerupai kebutuhan klien nyata.
Cocok untuk siapa?
- Fresh graduate dan mahasiswa.
- Freelancer pemula atau career switcher.
Kelebihan
- Tersedia berbagai brief proyek dari beragam bidang kreatif.
- Cocok untuk membangun portofolio meskipun belum memiliki pengalaman kerja profesional.
Website: https://fakeclients.com/
3. UXTools.co
Fungsi utama
- Menyediakan berbagai studi kasus UX Design untuk latihan dan pengembangan portofolio.
- Membantu pengguna mengasah kemampuan desain melalui tantangan yang menyerupai proyek nyata, seperti redesign website.
Cocok untuk siapa?
- Mahasiswa dan fresh graduate yang ingin membangun portofolio UX/UI Design.
- UX Designer pemula yang ingin meningkatkan keterampilan dan pengalaman praktik.
Kelebihan
- Menyediakan studi kasus yang relevan dengan kebutuhan industri desain.
- Dapat digunakan sebagai bahan latihan sekaligus portofolio untuk melamar pekerjaan.
Website: https://www.uxtools.co/challenges
4. SEOReviewTools
Fungsi utama
- Menyediakan tools SEO untuk latihan riset keyword dan optimasi konten.
- Membantu membuat content brief secara otomatis melalui fitur Content Brief Generator.
Cocok untuk siapa?
- Content writer dan SEO writer.
- Mahasiswa, fresh graduate, atau pemula yang ingin belajar SEO dan membangun portofolio content writing.
Kelebihan
- Dilengkapi berbagai tools SEO yang dapat digunakan untuk latihan secara langsung.
- Memudahkan proses penyusunan content brief dan content plan dengan bantuan AI.
Website: https://www.seoreviewtools.com/ai-content-brief-generator/
5. StudioSpace Brief Generator
Fungsi utama
- Membantu membuat project brief secara otomatis dan terstruktur dalam waktu singkat.
- Dapat digunakan untuk membuat simulasi brief proyek marketing, desain, maupun digital project.
Cocok untuk siapa?
- Content creator, marketer, dan desainer
- Mahasiswa dan fresh graduate
Kelebihan
- Gratis dan mudah digunakan tanpa perlu menyusun brief dari nol.
- Menghasilkan brief yang rapi sehingga cocok untuk latihan maupun simulasi proyek profesional.
Website: https://studiospace.com/brief-generator/
6. Goodbrief.io
Fungsi utama
- Menyediakan project brief lengkap yang mencakup profil perusahaan dan detail pekerjaan yang harus dikerjakan.
- Membantu pengguna berlatih mengerjakan proyek kreatif untuk membangun portofolio.
Cocok untuk siapa?
- Desainer grafis, ilustrator, dan UI/UX designer
- Mahasiswa dan fresh graduate
Kelebihan
- Menyediakan brief yang detail dan menyerupai kebutuhan klien nyata.
- Memiliki banyak pilihan proyek kreatif, seperti branding, ilustrasi, desain kemasan, billboard, dan website.
Website: https://goodbrief.io/
7. Designercize
Fungsi utama
- Menyediakan berbagai proyek desain fiktif dengan tingkat kesulitan yang beragam untuk latihan.
- Membantu pengguna mengasah kemampuan desain sekaligus melatih kecepatan kerja melalui fitur timer.
Cocok untuk siapa?
- Desainer pemula yang ingin berlatih mengerjakan proyek secara bertahap.
- Mahasiswa, fresh graduate, dan desainer yang ingin meningkatkan skill serta portofolio.
Kelebihan
- Memiliki sistem latihan yang interaktif dan terasa seperti bermain game.
- Menyediakan pilihan tingkat kesulitan yang dapat disesuaikan dengan kemampuan pengguna.
Website: https://designercize.com/
Kesalahan yang Perlu Dihindari dalam Membuat Dummy Project
Berikut ini beberapa kesalahan umum dalam membuat dummy project.
- Hanya menampilkan hasil akhir tanpa memperlihatkan proses berpikir (logic).
- Membuat solusi yang terlalu indah secara visual tapi tidak fungsional.
- Mengabaikan evaluasi atau metrik kesuksesan (misal: “Jika ini proyek nyata, bagaimana kita tahu ini berhasil?”).
- Menyalin (copy-paste) mentah-mentah dari tutorial populer.
Ingat, tujuan dummy project adalah menunjukkan skill yang kamu miliki. Jadi, hindari kesalahan-kesalahan di atas agar hasilnya makin maksimal.
Kesimpulan
Dummy project atau fake project dapat menjadi solusi bagi pemula maupun fresh graduate yang belum memiliki pengalaman kerja, tetapi ingin membangun portofolio profesional.
Melalui project simulasi, kamu tetap bisa menunjukkan kemampuan teknis, kreativitas, hingga proses berpikir yang dimiliki kepada recruiter maupun calon klien.
Agar hasilnya lebih maksimal, dummy project perlu dibuat secara realistis mulai dari menentukan tujuan, menyusun problem statement, melakukan riset, hingga menampilkan hasil akhir yang rapi di platform portofolio.
Semakin detail proses yang ditunjukkan, semakin besar pula peluang recruiter untuk melihat potensi dan kemampuanmu.
Jadi, meskipun belum memiliki pengalaman kerja formal, kamu tetap bisa mulai membangun personal branding dan portofolio dari sekarang.
Setelah memiliki portofolio yang lebih siap, kamu bisa mulai mencari peluang kerja yang sesuai dengan skill dan bidang yang ingin dikembangkan melalui Talent Growth.
FAQ Tentang Dummy Project
1. Apa itu dummy project?
Dummy project adalah proyek simulasi atau proyek fiktif yang dibuat untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, dan proses berpikir meskipun belum memiliki pengalaman kerja nyata.
2. Apakah dummy project bisa digunakan untuk melamar kerja?
Bisa. Banyak fresh graduate dan career switcher menggunakan dummy project untuk mengisi portofolio dan menunjukkan skill kepada recruiter.
3. Apa saja contoh dummy project?
Contohnya seperti campaign media sosial brand fiktif, desain UI/UX aplikasi, strategi digital marketing untuk UMKM, artikel SEO, hingga redesign website.
4. Di mana bisa membuat dummy project?
Dummy project bisa dibuat menggunakan berbagai platform seperti Notion, Behance, Medium, Canva, Figma, atau website penyedia brief project seperti FakeClients dan Goodbrief.
5. Bagaimana format dummy project yang baik?
Dummy project sebaiknya memiliki tujuan yang jelas, problem statement, riset, proses pengerjaan, hasil akhir, serta penjelasan strategi atau solusi.





